Program Studi Informatika Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Unhan RI Laksanakan Kuliah Pakar “Cyber Warfare dan Peran Software dalam Sistem Pertahanan Modern”

Bogor (12/06) – Program Studi Informatika Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan (FTTP) Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) melakasanakan Kuliah Pakar dengan tema “Cyber Warfare dan Peran Software dalam Sistem Pertahanan Modern”, yang diselenggarakan di Ruang Theater Gedung Auditorium Lt. 2 Kampus Bela Negara Unhan RI. Kegiatan ini menghadirkan 3 (tiga) narasumber yang berkompeten pada bidangnya, diantaranya Mayor Jenderal TNI Iroth Sonny Edhie, M.H.I selaku Kepala Pusat Komunikasi dan Elektronika TNI AD (Narasumber I), Sylvia Efi Widyantari Sumarlin selaku Asisten Khusus Menhan dibidang Cyber Security (Narasumber II), dan Prof. Dr. Hoga Saragih, S.T., M.T., S.Th., M.Th., D.Th., CIRR, MIEEE, IPU selaku Guru Besar Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Bakrie sekaligus Kepala Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Bakrie (Narasumber III).

Dalam kegiatan ini acara dibuka oleh kata sambutan oleh Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Unhan RI yang diwakili oleh Brigadir Jenderal TNI Wawan Subarjo, S.Sos., M.Si (Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTTP Unhan RI). Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kehadiran para Narasumber merupakan sebuah privilege yang nantinya para kadet menjadi ujung tombak sebagai pertahanan teknologi Indonesia di masa depan. Cerna pengalaman strategis dan teknis dari para narasumber, agar inovasi dan riset yang kalian kembangakan di kampus Unhan RI dapat diaplikasikan dan memiliki daya gentar (deterrence effect) yang tinggi untuk milter kita.

Dalam pemaparan Narasumber I, beliau memaparkan Society 5.0, Network Centric Warfare (NCW), dan Perang Generasi ke-5. Perkembangan teknologi informasi telah melahirkan bentuk ancaman baru yang tidak bersifat militer, tetapi juga nirmilier dan hibrida. Dalam konteks pertahanan, konsep NCW menjadi sangat penting karena memungkinkan seluruh elemen tempur terhubung melalui jaringan informasi yang terintegrasi. Sistem ini didukung oleh konsep C5ISR atau K4SIPP yang mencakup fungsi komando, kendali, komunikasi, komputer, siber, intelijen, pengawasan dan pengintaian. Integrasi berbagai sistem tersebut memungkinkan peningkatan kesadaran situasi, kecepatan pengambilan keputusa, efektivitas operasi, dan koordinasi antar satuan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, perang modern tidak lagi ditentukan oleh kekuatan fisik, dan persenjataan tetapi oleh kemampuan mengelola informasi, membangun interoperabilitas sistem, serta memanfaatkan teknologi digital. Keunggulan teknologi dan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi peperangan generasi ke-5.

Pemaparan selanjutnya, dilanjutkan oleh pemaparan Narasumber II, beliau memaparkan Quantum Computing dan Post-Quantum Cryptography (PQC). Implementasi PQC dilakukan secara bertahap melalui penggunaan algoritma seperti ML-KEM untuk pertukaran kunci, ML-DSA untuk tanda tangan digital, serta SLH-DSA sebagai alternatif berbasih hash. Selain membahas PQC, pada paparan kali ini menekankan pentingnya membangun perangkat lunak (software) yang tangguh melalui identifikasi aset yang perlu dilindungi, penerapan threat modelling untuk mengenali resiko sejak awal, penggunaan library keamanan yang terpercaya, serta kemampuan sistem untuk beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan ancaman baru. Konsep Secure Software Development Life Cycle (Secure SDLC) diperkenalkan sebagai pendekatan yang menanamkan keamanan pada setiap tahap pengembangan software, mulai dari perencanaan, hingga maintenance. Dengan demikian, keamanan tidak dianggap sebagai proses akhir, melainkan menjadi bagian yang melekat dalam seluruh siklus pengembangan sistem.

Paparan terakhir disampaikan oleh pemaparan Narasumber III, beliau memaparkan Cyber Warfare dan Peran Software dalam Sistem Pertahanan Modern. Perkembangan teknologi menjadikan ruang siber sebagai domain perang baru yang sejajar dengan Darat, Laut, Udara dan Luar Angkasa. Ancaman utama dalam perang siber berasal dari kelompok Advanced Persistent Threat (APT) yaitu kelompok peretas yang sangat terlatih, yang mampu menyusup kedalam suatu sistem dalam waktu lama tanpa terdeteksi untuk melakukan spionase maupun sabotase infrastruktur kritis seperti sistem kelistrikan, perbankan, transportasi, energi, kesehatan dan militer. Perkembangan ransomware yang telah berevolusi menjadi ancaman serius dengan kemampuan enkripsi sekaligus mencuri data korban. Kecerdasan buatan (AI) yang saat ini sedang tren merupakan pedang bermata dua, karena dapat digunakan baik untuk menyerang maupun mempertahankan suatu sistem. Teknologi deepfake turut menjadi ancaman baru dalam perang informasi karena mampu menghasilkan video, audio, maupun gambar palsu yang sangat meyakinkan. Untuk menghadapi berbagai ancaman tersebut diperlukan Zero Trust Architecture yang berprinsip “jangan percaya siapapun, selalu lakukan verifikasi”, serta kegunaan Cyber Resilience yang berfokus pada kemampuan sistem untuk tetap beroperasi dan pulih dengan cepat setelah serangan terjadi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Program Studi Informatika FTTP Unhan RI Kolonel Inf Adam Mardamsyah, M.Han, di moderatori oleh Lettu Cpl Rochedi Idul Adha, S.Kom., M.M.S.I., dan dihadiri oleh seluruh sivitas akademika Informatika FTTP Unhan RI.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top